Sabtu, 29 Januari 2011

USUM LANGLAYANGAN

Dulu saya juga seperti anak urban nyingcet (pinggir) yang lainnya, besar dengan budaya usum-usuman (musim-musiman), usum kelereng, usum gambar tempel, usum gambar kertas, dan yang sekarang lagi usum disini, usum langlayangan atau musim layangan.

Bisa saya lihat di setiap beberapa meter, ada anak-anak yang seperti merayakan setiap hari dengan bermain layangan, entah menerbangkan, paboro-boro, ngabandang, atau hanya sekedar memegangkan gulungan benangnya.

Seperti juga hari ini, sabtu sore, sepertinya perayaan semakin menjadi karena setiap anak dan mungkin orang dewasa bermain layangan lebih lepas karena tidak ada beban mengingat besok adalah hari minggu, hari libur. "FUCK WORKING, FUCK SCHOOL, HAIL HAIL LANGLAYANGAN!" gitu kali yaa? hehehe...

Tapi lain dulu lain sekarang, mungkin karena dulu tidak begitu banyak bangunan yang konsekuensinya adalah menyaplok lahan kosong yang ada, tidak terkecuali lapang, hari ini lebih sering saya saksikan para penerbang (layangan), beraktifitas di sembarang tempat, di pinggir jalan raya, di sebelah rumah, BERBAHAYA kalau saya bilang.

Kabel listrik yang mungkin saja bisa menyetrum, pejalan kaki yang munngkin saja bisa tersangkut benang lalu jatuh (lebay banget ya?), pengendara motor yang mungkin saja dalam kecepatan rendah pun bila benang terkena leher bisa terluka, yah dan lain-lain.

Kurang bijak rasanya menyalahkan anak-anak kecil itu, karena bagaimanapun anak-anak adalah hasil dari lingkungannya, dan lingkungan terkecil adalah keluarga, orangtuanya, tapi kemudian menyalahkan orangtua juga sepertinya kurang bijak juga, bukankah orangtua itu adalah anak-anak dari orangtuanya juga atau nenek kakek dari anak-anak tadi, tapi menyalahkan kakek nenek juga rasanya kurang bijak, mungkin sudah pikun, mungkin sudah meninggal, dan yang pasti ya mereka sudah tua kasian disalahkan.

Begitulah seterusnya, lingkaran ini tidak akan pernah terputus jika generasi baru tidak memperbaiki diri untuk generasi mendatang yang lebih baik. Begitu bukan?
Jadi kalau kita adalah termasuk anak-anak dari lingkungan yang masuk kategori lingakran tadi, mari keluar, putuskan hari ini, buat kebiasaan baru, tularkan lagi kepada anak-anak kita, adik-adik kita, hasut teman-teman kita.

Semoga dengan garis-garis kecil, kita bisa membuat lingkaran baru. Lingkaran yang lebih baik tentu saja.



1 komentar:

  1. udah lama gak mampir nih mas. dan banyak post baru nih asik. hehe.

    ini parah juga di sekitar rumah saya usum langlayangan sampai satpam komplek pun ikut main layangan bersama anak-anak warga dengan alasan ngasuh.

    oh iya, mungkin agak lupa, saya tresnasuparman.blogspot.com yg skarang hitatus, karena lbh sering nulis di treswaluya.wordpress.com hehehehe

    BalasHapus