JANGAN BILANG-BILANG SAYA ROBOT


Buat kawan-kawan yang belum menjadi orangtua dari minimal satu anak, akan sulit mengerti kenapa saya dan istri kemarin bahagia luar biasa hanya karena si Kakang e'e. Bahkan kegirangannya dimulai dari suara kentut, saat adu tenaga sama si Kakang pas mau dimasukin dul**lax ke duburnya (ngeri yes?).

Jadi udah hampir 3 hari Kakang emang bermasalah dengan perutnya, pokoknya selama itu ngga BAB, nyiksa banget pasti, kasian e'enya terpenjara :D

Dari dulu sebetulnya saya emang bukan orang yang romantis, jika sesekali atau seringkali bisa ekspresif, tapi tidak untuk hal-hal yang sifatnya kasih sayang, entahlah pokoknya untuk urusan itu saya suka geli sendiri, untuk masalah ini boleh ditanya langsung ke istri saya Susan :D. Hal ini "diperparah" ketika masuk dunia konveksi, saya jadi semakin kaku, jadi sangat mekanis dan robotik, semua selalu dipandang hitam putihnya saja, keindahan abu-abu atau "zona diantaranya" dari setiap hal jadi sulit terlihat.



Menurut saya hal-hal kreatif dan bisa jadi turunannya yang semacam romantisme itu adalah hasil dari kepekaan kita melihat area abu-abu. Ungkapan aku cinta kamu jika dieksekusi secara kaku bisa saja diucapkan datar saja tanpa emosi apapun, esensinya sama kan aku cinta kamu, lain lagi jika mau sedikit mengakomodir "zona diantaranya" tadi, ungkapan aku cinta kamu bisa begitu variatif, kamu bisa mengucapkannya diiringi gonjrengan gitar, atau menuliskannya dengan untaian bunga bangkai eh.. mawar, dan begitu seterusnya.

Nah apa hubungannya dengan paragraf pertama tadi? Ya itu dia, kehadiran anak saya yang pertama ini mengajarkan saya untuk sedikit demi sedikit menjadi manusia lagi, pelan-pelan saya mulai mengintip-intip kembali area abu-abu yang sempat saya tinggalkan, saya ingin ekspresif dalam hal kasih sayang untuk anak saya ini. Semoga saya bisa kembali menjadi manusia yes.

Tapi hey Susan, giliran kamu nanti yah, nih:
ataedun Web Developer

Tidak ada komentar:

Posting Komentar