Maafkan Aku Manda


Seharusnya dari awal aku memberanikan diri saja menutup teleponnya, aku tahu sejak kata pertamanya meluncur ini akan berakhir buruk. Benar saja hati ini masih gundah, aku hanya berharap semoga Tuhan tidak menghitung ini sebagai dosa, semoga dia yang berbicara di seberang telpon tidak merasa sakit hati aku tutup sepihak.

Namanya Manda, suaranya lembut, tuturnya sopan, intonasinya begitu terjaga, membuatku menjadi bimbang apakah harus kulanjutkan suasana hati yang sedang buruk ini? Manda kadang terdengar seperti orang yang sabar tapi sesekali terkesan tanpa emosi ketika aku menjawab sekenanya bahkan malas-malasan, mungkin kau pun akan mendapati kesan dia adalah wanita yang tangguh jika berbicara dengannya di telepon.

Aku masih bingung bagaimana cara mengakhiri percakapan dengannya, sudah hampir semenit dan aku hanya menjawab sekenanya dengan level suara yang begitu rendah. Aku tidak sampai hati menutup ponsel pintarku, tidak pada 60 detik pertama, dia begitu percaya diri berbicara seolah-olah dia tahu yang terbaik untukku, membuatku merasa menjadi seorang yang brengsek jika mengabaikannya, apalagi sampai menutup teleponnya.

Tapi aku jadi ingat istriku, aku yakin dia akan punya suasana hati kurang baik jika tahu aku sedang bercakap-cakap dengan Manda, harus kututup sekalipun Manda yang berada di koordinat lain menyanjung bahwa istriku adalah yang paling cantik di keluargaku saat dia tahu kalau aku saat ini punya anak lelaki satu-satunya.

Maafkan aku Manda, aku harus menetop teleponmu, kau bisa sebut aku brengsek atau tidak, tapi aku yakin kau pasti setangguh yang aku kira, aku bukan lelaki pertama yang kau telepon dan sudah pasti bukan yang terakhir bukan? Ini pun bukan telepon pertamaku dari wanita lain yang memperkenalkan diri dan mengaku sejak awal dia mewakili perusahaan asuransi.

Maafkan aku Manda.


ataedun Web Developer

Tidak ada komentar:

Posting Komentar