MENANGIS




Menangis itu buat saya seperti pelepasan (releasing), seperti berkeringat saat banyak lemak dan toksin dalam tubuh, maka setelahnya kita merasa sehat kadang-kadang, ya kadang-kadang... karena biasanya setelah berolah raga fisik memang terasa sehat tapi pikiran melayang lagi inget utang :D, jasmani oke rohani bokek :D

Terakhir saya menangis dan berkesan dan juga terasa "releasing" adalah tahun 2007, saat menjelang presentasi Tugas Akhir kuliah S1 (ya Ganteng-Ganteng Saya Sarjana sih -GGSS-). Saya ngga begitu ingat apa yang memicunya, tapi sebelum mandi tiba-tiba saja sesenggukan barang semenit atau dua menit. Sumpah itu adalah tangisan yang melegakan, pokoknya terasa semua beban yang tertanggung pra presentasi TA itu hilang setelah menangis.

Tadi sore saya menjemput sekolah keponakan saya, Ganteng-Ganteng Sopir kalau sekarang, mengganti tugas ibunya yang juga merangkap sebagai kakak saya, masih sakit. Saya ajak juga Kakang anak saya yang masih hampir 3 tahun, plus ibunya juga, dan plus Kakak saya juga sih :D

Di tengah tiga perempat perjalanan, Kakang mulai "berulah", kalo udah kayak gitu susah diaturnya  minta ampun, malah dia yang teriak-teriak "DIEM!..DIEM!", semua barang yang ada di depannya lalu dilempar, amarahnya sudah memuncak, tone suaranya sudah meninggi, sepertinya debar jantungnya semakin cepat, mukanya memerah. Persis seperti gunung yang mau meletus.

Anehnya saat itu saya malah berpikir bahwa Kakang butuh pelepasan, amarahnya sudah memuncak di ubun-ubun, saya malah ngga rela justru kalau marahnya reda tanpa nangis duluan, soalnya udah puncak banget, sumpah deh, harus diledakkin, biar "release" :D. Aneh yah? Ngga boleh ya harusnya?

Tapi ya udah terlanjur, saya bilang: "CEURIK!..CEURIK!" dan menangislah, mungkin Kakang menangis karena mendengar suara saya yang tinggi, bukan karena pesannya :P. Tapi saya lega akhirnya Kakang mendapatkan pelepasan setelah marahnya tertahan.

Ayeuna mah bobo nya Kang.. tos wengi. Dub!


ataedun Web Developer

Tidak ada komentar:

Posting Komentar