Pole Position Lampu Merah


Dari jauh sudah terlihat ada seseorang di pinggir jalan sedikit ke tengah dengan tangak melambai memegang kertas berukuran kecil, bisa berwarna putih, pink, kuning, atau warna apapun, hendak menawarkan flyer gratis (tentu saja) kepada para pengguna jalan, khususnya pengendara motor. Mereka membagi-bagikan flyer berisi daftar harga motor dengan format cicilan, dari yang berharga paling mahal hingga yang paling terjangkau.

Entah untuk kota lain, tapi di Bandung sejauh saya berkeliling kota ini ada saja ruas-ruas jalan yang mereka isi, biasanya di jalan-jalan sekunder (istilah saya sendiri), jalan besar tetapi bukan jalan utama. Mungkin rasionalisasinya adalah traffic seliweran pengguna jalannya tinggi, tapi kecepatannya tidak seganas di jalan utama.

Saya lihat beberapa memang jadi memelankan motor lalu mengambil alat promosi tersebut, saya pribadi belum pernah mengambil, saya ngga tertarik sejujurnya, motor yang ada memang bukan punya saya, tapi belum berniat membeli, jikapun motor yang saya gunakan sekarang milik pribadi, entah apa yang ada di pikiran saya untuk punya lagi, tidak seperti anak yang 2 saja cukup atau bisa nambah juga, sepertinya untuk kendaraan seperti motor yang digunakan untuk mobilisasi (eh..motorisasi), satu saja cukup kali ya.

Untuk melihat betapa banyaknya sepeda motor di Bandung, kita bisa lihat di perempatan dengan durasi lampu merah yang agak panjang, kalau di Bandung bisa main ke perempatan SAMSAT yang ada Carrefour, lihat yang dari arah buah batu menuju bypass, seketika lampu hijau menyala BRAAALLL sepeda motor berhamburan dan beberapanya yang berada di pole posisition menancap gas layaknya kontestan motoGP, banyak sekali.

Saya pribadi melihat kemudahan mendapatkan sepeda motor ini (walaupun dalam bentuk hutang/cicilan) memang sangat mendukung membludaknya motor di jalanan, yang punya gaji UMR, sebulan kerja maka bulan depan bisa membayar DP untuk memboyong motor ke rumah, cicilannya? lihat nanti saja, biasanya 3 bulan baru ada debt collector, kalo dijabel/diambil lagi sama leasing, yah hitung-hitung menyewa motor lah ya. (Rp.500.000:90 hari = Rp.5555/hari) Lumayan lah. Wah kamu jadi kepikiran lagi yah?

Dari sisi komersil, sudah pasti perusahaan sepeda motor atau leasing yang menyebarkan produknya jadi mendapatkan keuntungan besar, Indonesia sudah pasti jadi target pasar yang menggiurkan, ya kita lihat saja tagline semacam SATU HATI yang terpampang besar di motornya motoGP tim Honda, sudah pasti bukan buat pasar Itali atau Singapura, ya untuk Indonesia lah. Atau "Semakin di Depan" Uhuuuyy...

Konsekuensinya besar juga sih, tapi jika saya mengkritisi masalah jalan yang penuh sesak, sepertinya belum bisa, saya yang mobilitas/motoritasnya tinggi, akan sulit lepas dari motor. Sungguh.

Yang lebih saya khawatirkan dari mudahnya mendapatkan motor ini adalah masyarakat tidak lagi berpikir panjang untuk mengambil cicilan, yang punya satu jadi kepikiran punya dua (bukan istri hey, motor coy!), yang punya dua biji, ya pasti itu mah cowok (biji emang dua kan?), yang cuma punya uang DP saja, sudah berani mengambil juga, selanjutnya kehidupan jadi tidak sama lagi saat bayang-bayang debt collector mengikuti hingga alam mimpi, dan satu lagi, karena motor berlebih di rumah, sang anak yang masih SMP atau SD, jadi boleh pake, mending ke warung aja, ini dipake ke sekolah juga, ke mall juga, seain masih ilegal karena pasti belum punya SIM, kecakapan dalam berkendara juga jadi dipertanyakan, maka kehidupan pun tidak akan sama lagi saat terjadi kecelakaan. Bocah mah pake angkot aja hey! atau diantar saja sama ayah, sun tangan pas turun.

Maka, selain karena memang belum ingin membeli (supaya motor yang ada ngga mubadzir), saya tidak ikutan mengambil flyer supaya terhindar dari tergiur ingin punya, soalnya lagi pengen punya ini nih:





ataedun Web Developer

Tidak ada komentar:

Posting Komentar