Renungan pasca BBM naik


Saya ngga bisa dan ngga mau juga kalau harus mengalkulasi secara rumit, tapi seperti pada umumnya saya lebih ingin harga BBM ngga naik, dulu hingga sekarang masih begitu. Tapi ada bedanya, jika dulu saya merasa lebih adem ayem aja pasca kenaikan, sekarang hawa panas kenaikan BBM sekarang lebih awet dari pada temperatur siang di Bandung yang seharinya cuman 12 jam, bisa 24 jam setiap hari, dan boleh jadi akan awet hingga berbulan-bulan mendatang. Sejujurnya jika boleh egois dampak seperti ini yang lebih saya benci.

Tapi saya tetap akan mengambil sikap yang ya katakanlah lebih bijaksana, saya ngga mau masuk ruang berhawa panas tadi, sebagai mahluk individual yang berarti terkadang hanya memikirkan diri sendiri, saya ngga keberatan juga dengan kenaikan ini, dari dulu hingga sekarang kenaikan BBM ini nggak berdampak signifikan terhadap saya. Terdengar egois? Ya keleuuss.. kan tadi saya bilang ini konteksnya saya sebagai mahluk individu.

Sejak dulu saya ngga berani menyampaikan opini terkait kenaikan ini, sebab saya akan cenderung mengikhlaskan saja, dan apa yang akan terjadi dengan sikap yang seperti pro sama kenaikan BBM ini, saya akan di-cap sebagai orang yang tidak peduli orang lain, dan lalu disuguhi cerita-cerita sedih orang-orang miskin yang berjuang setiap hari hanya untuk mendapatkan laba di kisaran ribuan rupiah. Dan jika ada yang menyodori saya cerita itu, PLIS DEH! kamu pikir saya sebiadab itu dengan ngga berempati sama mereka.? Terkutuklah kamu wahai siapa saya ngga tahu tapi mudah-mudahan ngga ada sih.

Film Constant Gardener mengajarkan saya satu hal dalam menghuni bumi ini, bahwa kita tidak bisa menolong semua orang, betul kita harus menolong tapi tolong saja sebisa kita, jika ada ribuan orang di muka bumi ini yang harus ditolong, sementara kita hanya bisa menolong 3 orang, "abaikan" yang lain dan tolonglah yang 3 ini, tentu akan lebih baik daripada tidak menolong sama sekali. Dan hal-hal lainnya menggiring saya berkesimpulan bahwa kehidupan akan terus berjalan, jika di hadapan saya misalnya ada 3 pengemis yang meminta uang  tapi saya hanya bisa memberi seorang saja, saya akan membiarkan saja, selebihnya Tuhan pasti akan mengurus. Sejujurnya itu membuat saya lebih lega sih.

Menyambung lagi dengan kenaikan BBM ini, saya memilih ikhlas, melanjutkan hidup dan memikirkan juga orang-orang terdekat saya yang mungkin bisa saya bantu, keluarga, kawan-kawan, para kru yang bekerja bersama saya. Saya memilih melakukan hal-hal konkrit daripada mempublikasi ulang cerita-cerita sedih, saya ingin menyikapi hal-hal tidak menyenangkan dengan lebih positif.

Simpelnya begini, jika BBM naik dan saya ikhlas, lalu ada yang mengutuk saya dengan bilang bahwa tukang gorengan di seberang sana akan semakin tercekik karena harus membeli semua kebutuhan yang lain yang juga ikut naik. Maka dalam hitungan saya, naikkan saja harga gorengannya pada angka yang pantas dan membuat antara pasak dan tiang kembali seimbang, selanjutnya jika saya hendak membeli saya tidak akan menawar. Kamu yang mengutuk dengan dalih pro orang kecil, tidak perlu membakar ban, kamu kan orang mampu, cukup beli saja dagangan mereka yang mulai naik, kamu yang mampu bekerja ekstra demi memenuhi kebutuhan hidup, bekerja ekstra saja, lebih bagus bukan dari pada berleha-leha, atau mengeluh saja.

Bagian orang miskin yang kamu juga hanya bisa membagikan ceritanya saja tanpa membantu hal yang konkret, saya akan serahkan pada Tuhan, untuk hal ini saya tidak akan berbicara kalkulasi, sepertinya Tuhan tidak bekerja secara matematis.
ataedun Web Developer

4 komentar:

  1. Tetap berusaha dan berkarya semaksimal dalam bidang kita masing-masing. Tanpa hilang empati dan daya kritis.

    Saya sih menganggap demo mahasiswa dan lainnya sebagai sebuah bukti bahwa di Indonesia masih membuka kesempatan bersuara dengan bebas. Adapun cerita-cerita sedih yang banyak dipublikasikan saya anggap sebagai pengingat bahwa saya tidak boleh hilang empati meski kenaikan BBM ini tentu saja hasil kebijaksanaan presiden Jokowi untuk rakyat Indonesia.

    :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih udah komen yah, kalo ada kritik, masukan, bingkisan, kirim2 aja... hehe... kali aja ada kata-kata yang nggak pantas dsb. Lagi belajar nulis, biarpun bebas tapi saya ngga mau menyinggung hehe... sekali lagi makasih yah

      Hapus
    2. Saya pikir demo itu dalam konteks mengkritik sangat bagus, tapi kadang hanya bersisa membakar ban saja, dengan begitu saya malah jadi ragu mereka sebetulnya lagi ngapain sih? beneran lagi peduli sama rakyat kecil atau lagi khawatir sama diri sendiri aja? masa sambil marah2..

      Hapus
  2. Yang jadi pertanyaan saya " Kenapa naiknya cuma 2000?" kenapa ga naik 10.000 atau lebih gitu...

    Secara, uang saya susah habis, makanya harus naik lebih gede dong, biar cepet habis... hahahaha piss aah :-)

    BalasHapus