Melancong di Negeri Sendiri


Ini pengalaman baru buat saya, jalan-jalan bertiga bersama istri dan anak menggunakan transportasi umum di Bandung. Idenya sendiri muncul karena saya lagi parno sama razia polisi, kebetulan motor belum diisikan STNK-nya :D -Saya memang punya masalah dengan aktifitas-aktifitas semacam begini: bayar pajak STNK, setor uang ke Bank, nuker cek, nuker giro, bayar kartu kredit, bayar kartu kredit, bayar kartu kredit :D, seringnya karena males aja sih-, jadi sebelum berangkat saya liat di newsticker pas iklan acara 86 ada pengumuman operasi zebra yang lagi hip banget deh bulan ini, kayanya kalo polantas ngga ikutan operasi zebra, ngga gaul deh. LAgipula ada bagusnya kalo naik angkot, tatanan rambut saya ngga akan keganggu sama helm :D Soalnya udah di-pomade pake Rinokamacho



Rutenya cukup lucu, supaya berhemat ongkos ojek dan agar lebih simpel, saya putuskan untuk membawa serta motor tetapi diparkir di mall terdekat, kalo yang kebetulan orang Kiaracondong dan sekitarnya pasti tau lah, Lucky Square namanya, dari situ kami akan berburu angkot :D

Hari Minggu itu sangat cerah, sangat ideal untuk dipakai jalan-jalan, harafiah yah, kami memang menghabiskan lebih banyak aktifitas berjalan. Naik angkot 2 kali, yang pertama jurusan Cicaheum-Kebon Kalapa, lalu turun di sekitaran Jl. Supratman yang ada lapang futsal outdoor itu loh, jadi keren sekarang, dulu pas saya SD itu cuma lapang besar tiada terurus, becek kalo hujan, kering kerontang kalo kemarau.

Dari situ transit dan lanjut naik jurusan Ledeng Kebon-Kalapa, lalu turun di depan Taman Lansia. Jalan-jalan seperti ini mengingatkan saya saat backpacking bareng istri dulu, memang biasanya waktu banyak dihabiskan dengan berjalan, jadi saat keluar dari mall Lucky Square itu saya bilang, anggap saja kita semacam orang Filipina (itu yang kepikir, mungkin gara-gara masih teringat Indonesia kalah sama mereka 4-0) yang lagi melancong ke Indonesia :D

Dari Taman Lansia kami mulai berjalan, tadinya ingin menuju Taman Cibeunying, mau nongkrong disitu, biar Kakang bisa lari-lari juga, tapi sepanjang perjalan banyak distraksi, perwujudannya adalah tukang balon, itu adalah salah satu benda yang menggoda Kakang untuk jajan :). Saya ingin rada mengatur ritme jajan Kakang, supaya dari kecil belajar ngga selalu dapet yang dia mau. Untungnya saat itu ngga ada kemarahan berarti, masih standar lah, rengekan Kakang reda saat saya akod (digendong di punggung) sambil berlari.



Kebetulan lapar, dan kebetulan Susan mau traktir juga, kebetulan belum nyobain steak Holycow, jadi dengan sengaja kami menuju kesana, berjalan kaki tentu saja, berarti jarak dari Taman Cibeunying ke Holycow yang di Jl. Riau, hmm... kira-kira 5 km ada gitu yah? ya gitu deh, pura-pura jadi pelancong aja.

Setiba di Holycow, kami memesan. Steak dan minumannya berbayar, tapi satu scoop es krimnya gratis karena kita mention mereka di twitter.
Steaknya datang, saya ngga punya ekspektasi apapun, tapi ada becandaan orang Sunda kaya gini (saya langsung terjemahkan bahasa Indonesia aja ya):

"Ih, itu es-nya jangan dimakan! udah dingin tau!"

Untuk kebanyakan orang Sunda, makanan berat harus selalu disajikan panas, sekalipun akan dimakan saat temperaturnya lebih dingin, dan menyajikan makanan berat dalam kondisi tidak panas, bahkan cenderung dingin adalah sebuah kesalahan maha besar. Maka daging steak yang teronggok diatas piring saat itu adalah sebuah kegagalan luar biasa dalam sejarah kuliner saya. Susan berpikir ini sudah dimasak terlebih dahulu, ini terlihat dari cepatnya pesanan datang, untuk makanan yang bukan cepat saji semacam steak, saya akan mempersiapkan diri untuk menunggu lebih lama, dan waktu dari memesan hingga steak datang sungguh cepat.



Untuk harga diatas steak-steak lain yang pernah saya coba, jelas ini overprice. Saya ngga membayangkan berada disana lagi di masa-masa mendatang. Seseorang harus menjelaskan, apakah saat itu aksidental atau memang penyajiannya seperti itu. Holy****!

Seperti juga pernah kejadian di tempat makan yang lain, jika kecewa dengan makanannya, kami biasanya langsung ngga betah dan akan bergegas pergi. Perjalanan kaki kami lanjutkan ke Saparua, istirahat sebentar, lalu berjalan dan sesekali berlari mengelilingi arena lari sebanyak satu putaran, dan keluar area Saparua untuk lanjut pulang.



Kakang tampak masih bersemangat, tetapi baru satu menit di angkot langsung pulas tidur.

Seandainya steaknya OK, kemarin akan menjadi hari Minggu yang sempurna. Tapi saya tetap bersyukur bisa ngeliat Kakang senang dan tatanan rambut saya masih OK saat pulang, makasih ya Rinokamacho

Mana cenah dek mere nu formula anyarna? :D




ataedun Web Developer

2 komentar:

  1. itu pomade emang :badai-proofnya? saat itu angin nan besar gegelubugan, tp ponimu tetap tinggi menjulang tar tergoyahkan

    BalasHapus
  2. Wah, kok aku jadi kabita ya setelah baca postingannya... :-)

    BalasHapus