HIRAUKAN WAITRESSNYA


Tadinya ini yang mau saya tulis...

Kemarin malam adalah malam minggu lagi yang saya isi untuk makan bersama dengan istri dan anak di luar, seperti biasa saya lebih menginginkan yang posisinya dekat dari rumah, dan kali ini daerah Jl, Burangrang yang akan dituju. Walaupun sempat browsing di internet tempat apa saja yang mungkin bisa dikunjungi, tapi keputusannya selalu datang di tengah perjalanan.

Lotteria akhirnya yang kami sepakati jadi tempat makan, mungkin tersihir benderangnya lampu dan klimisnya bangunan baik eksterior ataupun interiornya, tapi seperti juga tempat makan berformat fastfood yang lain, saya memang enggak punya ekspektasi lebih, saya hanya ingin kenyang sambil bisa duduk santai (juga alasan yang salah jika restoran fastfood yang dipilih).

Foto menunya menggiurkan, tempatnya luas dan agak lengang, tapi lengangnya karena sedikit pengunjung. Seharusnya saya curiga dari awal kenapa malam minggu begitu sepi disini, sepertinya lapar sedari rumah melemahkan kemampuan detektor "Jangan makan disini ah!" saya hehehe...

Susan memilih menu paket berdua seharga Rp. 36.000, di sebelah atas pada gambar paket berdua itu ada paket single (bukan jomblo ya maksudnya), seharga Rp. 35.000, tapi rupanya harga Rp. 36.000 paket berdua itu adalah harga per-orangnya :D, kirain. Tapi enggak apa-apa, saya enggak sedang punya masalah dengan uang, sebaliknya uang biasanya yang punya masalah dengan saya, kenapa ya?

Tanpa jeda berarti makanan datang, 2 potong ayam berukuran besar, dua bungkus nasi serta dua gelas Kola bersoda tersaji, saya langsung membuka bungkus nasi lalu melahapnya, dan mari kita mulai.

Nasinya keras di bagian terluarnya, seperti lupa dimasukkan ke dalam semacam penghangat atau paling tidak ruangan kedap udara, saya tidak bilang apa-apa sama Susan, tapi dia berpendapat sama hmm.. dan potongan ayam bagian saya, kebetulan lebih besar, tapi tekstur renyahnya seperti rusak oleh hmmm.. apa ya? oksidasi? ada bagian yang terlalu keras dan di bagian lain tidak terlalu renyah, seperti bukan baru dimasak pada hari itu, atau memang kualitas ayam gorengnya segitu?

Saya pernah mencoba ayam goreng tepung crispy di restoran fastfood yang lain semacam K*C, A*W, C*C, atau Saba*a sekalipun, dan nama terakhir tadi bahkan bisa mengalahkan rasa dan tekstur ayam goreng milik Lotteria, sejujurnya jika bukan karena lapar yang teramat sangat, saya tetap akan menghabiskan ayamnya (sayang soalnya uang nih hehe..). Di tengah-tengah makan, pesanan terakhir datang: Sup Ayam, dan untuk yang ini saya akan meng-head to head- kannya dengan air panas berbumbukan taburan Royco atau Masako. Sudahlah.

Niatnya saya ingin berlama-lama, tapi biasanya kalau sudah begini saya hanya ingin pulang, lagipula mau hujan. Mungkin ini kali terakhir saya ke Lotteria.

Saya kira kesan buruk tadi yang akan menjadi kenangan terakhir makan disana, sampai akhirnya...

Tapi seharusnya ini saja yang saya tulis...

Anak saya sebelum pulang ngotot mendekati kulkas minuman, saya ngeloyor pergi keluar biar itu jadi urusan ibunya dan saya bilang dalam hati "They dont deserve my other 7.000 rupiah" (tapi dalam bahasa Sunda, itu Inggrisnya mah saya liat di google translate). Ibunya pake trik "Ibu uwih heula nya, dadaahh.." (Ibu pulang dulu ya, dadaah), tapi ternyata enggak berhasil, Kakang anak saya tetap ngotot.

Terus saya lihat, ada seorang waitress mendekati Kakang, selanjutnya saya ngga liat lagi, tapi enggak lama kemudian Kakang dan ibunya keluar dengan sebotol minuman rasa jeruk artifisial merek V*T. Rupanya minumannya pemberian dari waitress tadi, saya tanya "kenapa ngga dibayar?" Susan jawab: "da enggak mau dibayar". Posisi sulit, saya sendiri juga enggak akan bisa menahan orang untuk berbuat baik dengan memberi minuman yang diidam seorang anak kecil usia 3 tahunan yang lucu dan tampan (turunan bapaknya) karena di persis di tempat parkir motor, bapaknya bertekad bulat enggak akan membelikan minuman itu atas 2 alasan: 1. Minumannya dingin dan 2. Karena perihal Rp 7.000 yang sudah tercampur sinisme.

Di jalan saya masih kepikiran, seharusnya tadi saya ada di dalam, paling enggak saya akan berfoto bareng mengabadikan rupa seseorang yang punya hati besar dan ketulusan luar biasa. Makasih ya Teh siapapun nama kamyu... Tuhan pasti punya miliyaran jalan dalam menambah rezeki dan berkah Teteh waitress.

Jadi begitulah, buat kamu yang terlanjur baca dari atas, jangan hiraukan yah, ambil sisi positifnya saja yang 4 paragraf terakhir ini. :P



ataedun Web Developer

2 komentar:

  1. Jadi, kalau saya mau kesana, kesimpulannya jangan makan, cukup berbaik hati saja dengan waitress nya ya? hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. ngga, jangan kesana sekalian. hahaha...

      Hapus