Beli Yacht dari Konveksi


Ini foto dulu, masih berantakan, sekarang mah udah agak rapihan. Lumayan lah rada beradab :)


Saat dulu jadi desainer grafis dan bekerja di studionya dosen saya, bos saya pernah berprinsip tentang mutualisme antara desainer dan klien dengan menglilustrasikannya seperti dalam percakapan berikut:

 Klien: "Saya mau pesen desain dong, bisa murah yah? entar saya pasti langganan kok, pasti banyak ordernya", alih-alih meng-OK kan dan menyambut dengan riang gembira, ini jawaban sang desainer: "Masukin dulu aja ordernya, kalo perlu kotraknya sini bikin, kita tandatanganin bareng!"

Terdengar songong memang jika kita masih menganggap bahwa profesi vendor (desainer) tidak setara dengan klien, berbeda jika mindset sudah kita rubah bahwa ada posisi yang setara, dan yang menyamakan kedudukan mereka adalah kebutuhan. Klien butuh jasa desain, dan vendor tentu butuh pekerjaannya.

Belakangan hal ini saya rasakan juga saat vakum menjadi desainer grafis dan beralih menjalankan bisnis konveksi kaos yang jika terhitung dari perkenalan saya dengan screen sablon, mungkin sudah masuk tahun ke-4. Di kalangan sesama pengusaha pun dialog seperti di atas memang tidak asing, tapi atas beberapa alasan kedudukannya jadi sulit seimbang, bukan saja karena masalah mindset, vendor (ini juga berarti saya) kadang merasa lebih inferior, biasanya karena order lagi sedikit. Masuk akal memang. Putus asa gitu lah hehe...

---------- Empat paragraf di atas sudah saya tulis setaun yang lalu barangkali, dan masih relevan. Saya lagi mengingat-ingat arahnya tulisannya mau kemana, tapi saya tetap lupa. Tapi saya lanjutkan dengan konteks sekarang aja deh ya.. hehehe..-----------

Berbeda jika posisinya solo karir, saya bisa diem dulu dan nunggu sampe bener-bener dapet kerjaan dengan ongkos ideal, bekerja dengan tim kondisinya jadi lebih kompleks saat minim order. Kadung banyak personil udah siap tempur, ngga bisa di-istirahat di tempat-kan atau lebih parah, bubar jalan dulu. Kalau mau vakum dulu, tau apa yang bakal kejadian?

1. Tim ngga akan mungkin nganggur juga, dan pasti akan cari garapan di tempat lain, terus betah dan tercukupi. Ikatan profesional dan emosional yang sebelumnya pernah terjalin pun ngga jadi jaminan bikin mereka pada balik lagi. Sudah terbukti di beberapa personil yang nggak kembali. hehe..

2. Momentum. Kalopun tim pada ngumpul lagi, saya ngga yakin momentumnya akan sama, lalu menyatukan chemistry-nya akan jadi PR lagi, karena berbeda dengan sistem garmen yang serba mekanik, di home industry kayak di konveksi saya ini, seringnya lebih kekeluargaan sistemnya.

3. Yah sayanya juga bisa jadi keburu males, jadi desainer lagi mungkin, jadi model lagi, jadi dagang cilok, ngga tau lah.

Balik lagi masalah kesetaraan vendor x klien tadi, memang jadinya mesti ngulik sebisa mungkin nempatin porsi kerjaan yang terlalu murah jangan sampe kebanyakan, ya supaya cukup buat kebeli yacht aja lah... ongkos koleksi Ferrari mah dari order ideal ya kan? Sambil menyelam minum air, kalo di laut airnya asin, kalo di kolam renang airnya rasa kaporit. Jadi order non-ideal tadi hanya dicukupkan untuk menutupi lubang kuota yang memang belum keisi, sambil lambat laun (ato bisa juga cepet-cepet) ditambal lagi pake order baru dari klien baru atau dari klien lama yang ordernya nambah. Ya gitu sih paling.

Saya ulang lagi, kalo saya ngomong dari sudut pandang manajemen, ada yang lebih penting dari sekedar dapet order mahal atau cukupan atau yang agak terlalu murah sekalipun, hal itu adalah: tim harus selalu beraktifitas, kaki-kaki para personil harus terus nge-gas, tangan-tangan tim sablon harus terus bergoyang, air mesti terus nyemprot screen yang sedang diafdruk, supaya momentumnya nggak ilang, supaya tim tetap dalam mood yang bagus dan supaya menjelang akhir bulan banyak bibir membentuk pisang pertanda senyum bahagia, akan mudik membawa uang. buat apa? ya buat beli Ferrari lah, gimana sih...

ataedun Web Developer

Tidak ada komentar:

Posting Komentar