Selasa, 06 September 2011

Jumat, 29 Juli 2011

HUMANISME DI TEMPAT BEKERJA





Keterangan gambar:
Yang paling atas itu, kantor American Online, yang bawahnya, Mangrove gituh? yang terakhir, ya itu baca sendiri, lengkapnya liat deh di officesnapshots.com

Saya sering takjub ketika iseng melihat-lihat (online) kantor perusahaan-perusahaan luar negeri yang aduhai kreatif sekali. Tempat bekerja yang disulap sedemikian rupa untuk kemudian malah lebih terasa seperti rumah sendiri, atau bahkan lebih bagus hehe... Atmosfir yang memang sengaja diatur untuk menciptakan kehangatan, keakraban, atau entah apa yang pasti suasana yang lebih bersahabat untuk para pekerja.

Sekali waktu ketika menunggu hujan di suatu sore, saya pernah terlibat dalam pembicaraan dengan rekan saya di halte angkot, perbincangan biasa memang, hanya saja didalamnya terselip tentang topik ini. Di mata saya, perlakuan istimewa terhadap tempat bekerja adalah cerminan perusahaan itu sendiri, jika berbicara tentang kreatifitas, tentu saja itu cerminan dari hal tersebut, atau jika berbicara tentang representasi bagaimana kemapanan perusahaan tertentu karena misalnya mau-maunya menghabiskan uang lebih banyak hanya untuk menyediakan ruang bermain, kursi yang empuk, atau layar tancap sekalian, juga betul sekali, perusahaan itu mungkin memang kaya raya, hehe.. tapi lebih dari itu, saya memandang bahwa hal tersebut adalah cerminan dari humanisme. Jika motifasi dari perlakuan lebih tadi untuk para pekerja, tentu saja itu adalah bentuk dari kemanusiaan, bagaimana perusahaan begitu peduli bukan saja hanya dengan menggaji (karena itu mah memang kewajiban), tapi juga bagaimana mereka memikirkan sisi lain selain hal-hal yang fisikal. Ini tentang mental, ini tentang bagaimana tetap menghidupkan jiwa para pekerja yang biasanya setengah mati karena yang mereka lihat sehari-hari adalah tembok polos kaku, kernyitan dahi di wajah rekan-rekan yang saling berhadapan atau yang berada di samping, deru mesin yang tiada ampun menghantam telinga, atau deru komplain bos, hehehe... Sekarang anda mengerti kan kenapa jiwa mereka setengah mati ketika berada di tempat kerja.

Saya tidak ingin me-muara-kan tulisan ini ke arah sinisme dengan mencak-mencak dan menganggap bahwa perusahaan lah yang sangat bersalah karena membuat tempat bekerja terlalu "efektif dan fungsional", sehingga semua diatur dalam perspektif pekerjaan bukan pekerja. Maksud saya, jika fokusnya adalah pekerjaan, maka perusahaan akan melakukan apapun agar pekerjaan cepat selesai dan seminimal mungkin cela, tetap di sisi lain malah mengesampingkan kondisi pekerja. Maka jadilah tempat bekerja sempit karena disesaki alat-alat supaya pekerjaan lebih banyak selesai dan pekerja yang terkena imbas karena untuk bernafas pun sulit hehe.. ah tapi saya sudah bilang arah tulisan ini bukan sinisme.

Walaupun tampaknya tidak sulit, tetapi fakta membuktikan (paling tidak untuk saya) bahwa tidak mudah juga untuk mewujudkan kondisi seperti ini (kantor/tempat bekerja yang humanis), sepertinya niat, mimpi dan motivasi kuat serta keinginan memberi yang tulus saja belum cukup, perlu tenaga ekstra, materi dan lainnya (saya belum tahu). Tapi memang ada bagusnya dimulai saja dulu dari niat yang kuat.

Yang jelas, kalau saya boleh berpendapat (kenapa ngga boleh segala ya? tulisan saya ini, blog saya ini, hehe...), setelah punya niat kuat, fondasi untuk mewujudkan hal ini adalah dengan berfokus terlebih dahulu kepada pekerja, bukan pekerjaan, karena saya yakin jika pekerja bisa bahagia, maka pekerjaan akan lebih produktif, buktikan saja! (Tapi kalau tidak terbukti, ya... gimana atuh ya? gingung... :D)



Selasa, 15 Maret 2011

Thedieline.com

Lagi liat-liat packaging keren-keren di thedieline.com, ini biasa saya lakukan pas lagi ngga ada kerjaan ato pas lagi jeda. Lumayan lah nambah-nambah referensi, ngeliat tren (tren apaan, ya ngga tau juga). Seringnya saya terkagum-kagum sama kemasan yang kebanyakan untuk produk luar negeri, keren banget desain grafisnya juga fisiknya. Sepertinya memang dibikin mendekati sempurna, mungkin juga karena desain-desain yang tampil disini juga hasil seleksi dari moderator, hehe... soalnya pas saya dulu coba-coba kirim desain, ya tau sendirilah ngga kepilih, tapi di website packaging yang lain sempet muncul, heuheu..

Tapi jadi kepikiran sesuatu nih, ya tentang kemasan itu, sepertinya semakin hari semakin banyak produk baru muncul, belum lagi jumlahnya yang mungkin juga akan terus bertambah karena produk-produk baru yang muncul tadi juga semakin laku, ditambah produk-produk lama yang juga semakin lama semakin laku dan bertambah jumlah produksinya, dengan sendirinya bertambah juga produksi kemasannya, weww... jadi banyak sekali yang dibuang.

Sulit sekali memabayangkan kondisi seperti itu sesulit membayangkan suatu produk tanpa kemasan. Sebab ya tau sendiri juga ya kalo dagang hari gini gitu, kemasan katanya harus dipikirkan juga masak-masak sampai matang-matang... Entah solusi mana yang bagus, dilematis memang karena seperti yang saya bilang tadi, produk tanpa kemasan ya susah, tapi kalo pake kemasan ya dampaknya lumayan juga... Mau dibikin multifungsi ya setengki-setengki juga antara dipake fungsi yang multinya dengan dibuang, ya kecuali fungsi lainnya adalah sebagai pemenuh tempat sampah, hehe...

Saya jadi ngebayangin misalnya kaos tanpa embel-embel hangtag, bungkus plastik apalagi box khusus, tapi adduhh..lagi-lagi hari gini gitu... masa ngga pake begituan... kalo ngga pake juga sama aja, kan nanti ada yang beli lewat online, dibungkus lagi, ngga dari kita ya dari ekspedisinya..

Ah tapi sudahlah dulu, saya tadinya juga cuma ingin berbagi link.
Saya pikir dibuang atau tidak dibuang kemasan-kemasan itu, jika berkaitan dengan dampak yang buruk dari terlalu banyaknya sampah, tetap aja kuncinya ya ada di manusianya juga, bukan karena ada banyak yang dibuangnya. Sebab sampai kapanpun juga kan sampah bakal tetep ada, yang penting kita bisa ngga ngatur ngebuangnya. hohoho...

Minggu, 27 Februari 2011

Back to 1900's with Asih


Hello...
Sebetulnya saya udah ngga sabar ingin posting yang satu ini, cuma ya seperti biasa karena sayanya ngga bisa nyempetin jadi selalu ketunda-tunda, sekarang mumpung minggu, ngga ada kerjaan pula, saya pikir ini waktunya buat posting.

Oke, sepertinja saja haroes soedah moelai memakai tulisan eh toelisan dengan edjaan jang beloem disempoernakan supaja lebih terasa soesananja. Hehehe...
Awalnja saja tidak menjangka djika oendangan jang satoe ini akan lebih menarik perhatian saja, bagaimana tidak, roepanja ada alasan jang sangat keren dibalik permintaan sang klien oentoek membikin oendangan ini dengan edjaan djadoel. Konten redaksional memang dikasi dari sana, tapi sedari awal Asih (klien saja ini) memang mengarahkan oendangan ini sesesoeai (nah bingoeng kan?) moengkin dengan tema keseloeroehan pernikahannja. Saja moelai dengan sketsa jang saja boeat ya, ini adalah logo oentoek kop soeratnya:

Landjoet...
Oendangan ini menggoenakan kertas djadoel jang pernah saja boeat djoega disini, roepanja Asih dan Hahang (soeaminja) melihat konsep jang itoe tjotjok oentoek mendoekoeng tema besar pernikahan mereka, moengkin dari sana mereka (jang diwakili Asih) moelai menghoeboengi saja dan berlanjut ke diskoesi-diskoesi singkat via FB, HP, dll.
Sebeloem saja loepa, ini saya kasih pratindjau oendangannya doeloe:





Langsoeng sadja ke obrolan kenapa projek (dibatja: proyek, hehe...) oendangan ini menjita perhatian saja dalam porsi jang agak berlebih, ini karena saja merasa lebih seperti dilibatkan (ge-er banget ya?) dalam seboeah mahakarja, seperti dilibatkan sebagai pemain salah satoe alat musik dalam komposisi orkestra jang besar, dan saja senang sekali bisa mendjadi bagian.
Saja tahoe ini ketika Asih menandai saja pada foto-foto pernikahannja di fesboek (ini facebook versi 1900-an :D), ketika saja melihat foto prewedding, souvenir, bahkan pelaminan, woww... soenggoeh loear biasa, Asih, suaminya (dan timnja moengkin) soedah mengarahkan betoel agar semoea sesoeai dengan tema besarnja, yakni tema kembali ke zaman 1900-an indonesia, hmmm.. bajangkan sadja Boedi Oetomo, hah? apa? tidak kebajang? goegling sadja kalaoe begitoe.

Ini tjoeplikan foto-foto jang dari fesboek jang saja maksoed:









Hmm, keren bukan? (kembali ke jaman sekarang), Asih hampir tidak melewatkan satu variabel pun dalam pernikahannya supaya tema besar yang saya maksud tadi tetap terjaga, saya penasaran, apa untu kbeberapa tamu ada dress code tertentukah?
Mungkin kapan-kapan saya harus interview mereka juga, ngobrol-ngobrol tentang perencanaan dalam konsep pernikahan mereka, ya paling tidak mudah-mudahan jadi inspirasi juga buat para calon pengantin yang sedang kebingungan mengonsep pernikahan.

Selasa, 08 Februari 2011

Tiga Tantangan Profesi Teknologi Informasi

Ini ada pidato bagus banget dari Betti AliSjahbana, seorang praktisi TI, cekidot:

Jumat, 4 Februari 2011, saya diminta memberikan Graduation Speech dalam acara Syukuran dan Pelepasan Wisudawan program Sarjana dan Paska Sarjana Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia. Tema sambutan saya adalah “Tiga Tantangan Profesi Teknologi Informasi”. Berikut adalah transkrip sambutan saya:

Selanjutnya Apa?

Besok Anda akan memasuki bab baru dalam hidup Anda. Dan kesempatannya sangat luas. Sebagian dari Anda ada yang akan bekerja pada suatu organisasi, sebagian lagi mungkin akan memulai bisnis sendiri. Satu hal yang pasti, Anda telah memilih bidang yang sangat menarik dan strategis. Begitu strategisnya bidang ini, sehingga saya yang dulu kuliah di bidang Arsitektur pun berpindah rel untuk berkarir di bidang Teknologi Informasi.

Saya baru saja membaca prediksi dari IDC, sebuah lembaga riset yang fokus pada Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). IDC menyatakan bahwa negara-negara di Asia akan menikmati pertumbuhan TIK yang luar biasa, yang dimotori oleh China, India, Indonesia, Vietnam, dan Filipina. Kesempatan kerja dan berkarir terbuka lebar bagi Anda semua. Bahkan perebutan dan saling bajak tenaga kerja dibidang TIK sangat terasa.

Tanpa terasa, saya sudah berkecimpung di dunia TIK selama lebih dari 25 tahun. Beberapa pelajaran telah saya petik dan ingin saya bagikan kepada Anda semua. Namun demikian, sebelumnya saya ingin menyampaikan beberapa hal di dunia TIK, dan tantangan saya bagi Anda.

TIK dan Karya Anak Bangsa

TIK berkembang sangat pesat dan sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidup kita. Pengguna Internet di Indonesia telah mencapai 45 juta tahun lalu, berdasarkan data dari Kementrian Kominfo, sementara telepon selular pun tumbuh sangat pesat dan saat ini mencapai 180 juta pelanggan atau 80% penduduk Indonesia.

Di bidang social media, pengguna Facebook di Indonesia mencapai 33 juta, dan menempati peringkat nomor 2 di dunia setelah Amerika. Sementara itu, pengguna Twitter di Indonesia sebanyak 6,24 juta, berdasarkan data pada September 2010.

Pertanyaan yang harus kita jawab adalah, apakah kita telah memanfaatkan teknologi tersebut untuk hal-hal yang produktif, yang memajukan dan mensejahterakan bangsa kita? Ataukah teknologi itu hanya menjadi sarana hiburan dan menjalin silaturahmi online saja? Lalu, apakah kita hanya bertindak sebagai pengguna saja, atau ikut memproduksi—baik itu perangkat keras, perangkat lunak, serta kontennya?

Kita sering dibuat sedih karena sementara pertumbuhan makro ekonomi di Indonesia baik, tetapi pertumbuhan tersebut lebih didorong oleh konsumsi saja. Hal ini membuat kita lebih menjadi penikmat keringat orang luar negeri. Akibatnya, penciptaan lapangan kerja di Indonesia masih terbatas dan angka kemiskinan pun masih tinggi. Di bidang TIK pun, hal ini terjadi—produk yang kita nikmati kebanyakan adalah produk impor.

Kabar baiknya, kini lebih banyak kesempatan bagi kita untuk tidak sekadar menjadi pengguna tetapi juga menjadi pencipta. Di bidang konten misalnya, Fahma Waluya Rosmansyah adalah pembuat aplikasi Nokia Ovi Store yang termuda. Berusia 12 tahun, Fahma berhasil menjuarai APICTA (Asia Pacific ICT Award) untuk kategori Secondary Student Project. Karyanya yang berupa game edukasi kini dipasarkan di seluruh dunia melalui Nokia Ovi Store. Kalau anak berumur 12 tahun saja bisa, masa Anda tidak?

Jadi, tantangan pertama yang saya berikan kepada Anda para wisudawan adalah untuk bersama-sama membangun kemampuan menjadi produsen TIK. Anda bisa berperan sebagai produsen itu sendiri, maupun sebagai fasilitator bagi tumbuh dan berkembangnya karya-karya anak bangsa.

Bagaimana cara menjadi fasilitator? Caranya adalah dengan menggunakan produk karya Indonesia bila ada. Jadi, setiap kali akan membeli produk TIK, kita perlu bertanya, apakah sudah ada produk serupa yang merupakan karya anak bangsa? Jika ada, coba kita pertimbangkan untuk menggunakannya. Dan bila tidak ada, itu adalah peluang bagi kita untuk membuatnya.

Saya yakin kesempatannya banyak. Pada jaman di mana perubahan terjadi dengan sangat cepat seperti sekarang ini, yang dibutuhkan adalah keinginan untuk mencari peluang untuk melakukan inovasi. Selagi Anda masih muda, cobalah hal-hal baru yang berbeda, yang inovatif.

Itu tadi tantangan pertama. Gunakan produk Indonesia kalau sudah ada. Kalau belum ada, Anda bisa membuatnya.

TIK sebagai Katalisator Kemajuan Bangsa

TIK telah dan akan memberikan kontribusi yang signifikan untuk meningkatkan produktivitas, kreativitas, serta daya saing individu, organisasi, dan bangsa. Penelitian Bank Dunia atas 120 negaradengan basis data tahun 1980-2006, yang disajikan dalam laporan InfoDev 2009, menunjukkan bahwa penetrasi broadband sebesar 10% di negara sedang berkembang akan meningkatkan GDP sebesar 1,38%.

Sebagai praktisi TIK, kita wajib mendorong pemanfaatan TIK untuk memecahkan berbagai masalah bangsa. Salah satu masalah terbesar yang dihadapi bangsa kita adalah maraknya korupsi. Dibutuhkan peran serta berbagai pihak untuk memecahkannya.

Sistem informasi yang baik dapat mendukung transparansi dan tata kelola yang baik (good governance). Ketika e-government diterapkan dengan baik, bagi masyarakat ini berarti layanan yang lebih mudah diakses. Bagi komunitas bisnis, hal itu akan mengurangi beban pengurusan administrasi dengan memanfaatkan internet. Sementara bagi kantor-kantor pemerintah, itu berarti efisiensi dan efektivitas kerja yang menurunkan biaya, pelaporan yang lebih mudah, dan pengukuran kinerja yang lebih jelas.

Misalnya saja, 77% kasus korupsi yang ditangani KPK adalah menyangkut pengadaan. Daerah-daerah yang telah berhasil menerapkan e-procurement dapat mencegah korupsi karena adanya peluang kontak langsung antara penyedia jasa dengan petugas pengadaan menjadi lebih kecil. Proses pun menjadi lebih transparan dan lebih mudah diaudit.

Studi yang dilakukan oleh KPK menunjukan penerapan e-procurement telah menghasilkan penghematan anggaran sebesar 23.5% dan penghematan HPS (Harga Penetapan Sendiri) sebesar 20%. Penghematan waktu pelaksanaan pun terjadi, dari rata-rata 36 hari menjadi 20 hari.

Jadi tantangan kedua adalah, sebagai praktisi dan calon praktisi TIK, kita semua harus mendorong penerapan TIK untuk meningkatkan transparansi dan tata kelola yang baik. Dengan demikian kita berharap korupsi dapat ditekan. Jadi kita tidak lagi disuguhi tontonan Gayus di televisi setiap hari, tetapi melihat tokoh-tokoh TIK menjadi pejuang antikorupsi melalui penerapan TIK yang baik.

Kuasai Softskills

Sepanjang lebih dari 25 tahun berkecimpung di bidang TIK, saya telah merekrut ratusan praktisi TIK. Dari situ saya menemukan pola bahwa mereka yang sukses adalah mereka yang tidak saja mahir berbicara dengan komputer, tetapi juga mahir berkomunikasi dan berkolaborasi dengan bahasa manusia. Implementasi TIK hanya bisa berhasil bila kita bisa membuatnya dimengerti oleh orang awam.

Jadi, jangan berusaha untuk terlihat pandai dengan menggunakan bahasa-bahasa yang memusingkan, tetapi kuasailah seni berkomunikasi yang mampu membuat orang tertarik untuk memanfaatkan TIK secara maksimal. Demikian pula perkembangan TIK yang demikian cepat telah membuat kolaborasi antarnegara dan antarorganisasi yang difasilitasi oleh internet dan TIK menjadi bagian dari kegiatan sehari-hari.

Perusahaan kini bisa menjalankan operasinya secara terintegrasi di berbagai negara. Misalnya tim TIK ada di India dan Indonesia, pengadaan dilakukan China, call center di Filipina, sementara pusat administrasi pelanggan dilakukan di Malaysia. Tenaga kerja masa kini harus mampu bekerja dalam TEAM dan menyelesaikan suatu pekerjaan dengan kolaborasi antarorganisasi dan antarnegara. Syaratnya, selain hard skills, kita pun perlu menguasai softskills.

Apa saja yang termasuk softskills? Di antaranya kemampuan untuk berkomunikasi, beradaptasi pada situasi yang berbeda-beda, bernegosiasi, mengatur waktu, memecahkan masalah, bekerja dalam tim dan memimpin suatu tim. Gaya kepemimpinan masa kini adalah gaya kepemimpinan yang memberdayakan, membangun kolaborasi, dan memupuk segenap potensi yang ada.

Lalu, bagaimana mengasah softskills? Pelajari teorinya lalu praktekan. Niscaya, semakin lama kita akan semakin mahir.

Itu tadi tiga tantangan saya untuk para wisudawan, yakni:

  1. Bersama-sama membangun kemampuan menjadi produsen TIK,
  2. Menjadikan TIK sebagai katalisator kemajuan bangsa,
  3. Menguasai softskills.

Lima Ide untuk Mencapai Lebih dalam Hidup

Saya akan menutup sambutan saya dengan menyampaikan lima kiat untuk membuat Anda lebih sukses dalam hidup. Jadi bagi Anda yang tadi belum menyimak, sekarang waktunya untuk menyimak.

#1 Ciptakan Mimpi Besarmu

Cita-cita memberikan arah dan momentum dalam hidup. Sukses dalam kehidupan dibangun dari capaian demi capaian menuju suatu cita-cita. Ketika kita dihadapkan pada situasi sulit, cita-cita kitalah yang membuat kita terus bersemangat.

#2 5..4..3..2..1 ACTION!

“Banyak orang punya ide yang hebat, tetapi ide itu tidak kunjung dilaksanakan. Padahal ide saja tidak akan membawa kita kemana-mana.” Katanya, kata Motivation berasal dari kata motive dan action. Dengan kata lain motivation hanya ada bila kita punya tujuan (motive) dan ada tindakan. Jadi, bila kita merasa kehilangan motivasi dalam hidup ini, kemungkinan besar kita tidak punya motive dan kurang action.

Banyak orang memiliki ide, tetapi tidak dilaksanakan hanya karena takut membuat kesalahan. Hal ini sebenarnya bisa diatasi jika kita dapat melihat kesalahan sebagai hal yang positif. Kita belajar ketika kita membuat kesalahan.

Bukankah kita belajar paling banyak ketika kita membuat kesalahan? Berapa banyak kesalahan dibuat oleh seorang anak ketika mereka pertama belajar merangkak, lalu berjalan, hingga akhirnya berlari? Mereka belajar sambil berbuat dan memperbaiki apa yang salah. Mereka belajar secara alamiah. Tetapi, ketika menjadi dewasa, kita seringkali lupa bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Kesalahan hanya terjadi ketika kita mengambil tindakan.

Tindakan adalah dasar dari keberhasilan dalam hidup. Jadi sederhananya, pertama kita punya tujuan, lalu ambil tindakan, barulah keberhasilan akan datang. Ingatlah, “a journey of a thousand miles begin with a simple step”. What will your first step be?

#3 Semuanya Tergantung Saya, Bukan Orang Lain: If it is to be, it’s up to me

Salah satu tantangan terbesar yang kita hadapi dalam hidup adalah berani menerima kenyataan bahwa kita bertanggung jawab atas apa yang kita alami dalam hidup kita.

Kita punya kecenderungan untuk menyalahkan semua orang kecuali diri kita sendiri dari waktu ke waktu. Kenyataannya, dengan menyalahkan orang lain, kita sebetulnya telah menyerahkan kontrol terhadap hidup kita dan menghilangkan kesempatan untuk belajar dari kesalahan yang kita buat. Saat di mana kita berhenti mencari-cari kesalahan orang lain atas kesalahan yang kita buat, adalah saat di mana kita mulai menemukan kekuatan untuk berprestasi.

#4 Ciptakan Peluang Kita

Peluang tidak datang begitu saja, peluang kita ciptakan. Kita tidak begitu saja bertemu dengan peluang, melainkan kita mempersiapkan diri kita dengan pertama-tama membuka wawasan bagi munculnya ide baru dan masukan-masukan. Semuanya berawal dari keputusan untuk ingin membawa hal baru dalam hidup kita.

Belajarlah untuk bertanya. Apa yang saya ingin lakukan dalam hidup saya? Apa yang saya bisa lakukan untuk mengubah hidup saya? Atau, di mana saya bisa mendapat informasi yang akan membantu saya untuk mencapai tujuan saya dengan lebih cepat? Belajarlah untuk menentukan tujuan dan mengambil tindakan. Karena tindakanlah yang akan mempersiapkan diri kita untuk bisa mengenali dan memanfaatkan peluang-peluang dalam hidup kita.

Ada banyak peluang di sekitar kita. Bila kita mencarinya, kita akan menemukannya. Ingatlah bahwa peluang jarang mengetuk pintu. Kitalah yang harus mengetuk pintu peluang, bila kita ingin masuk ke dalamnya.

#5 Investasi Pada Diri Sendiri

Kita tidak perlu kaya dulu untuk menjadi seorang investor. Tetapi sebaliknya, kita harus menjadi investor bila kita ingin kaya. Dan ingatlah bahwa dari semua investasi yang bisa kita buat, investasi pada diri sendiri adalah investasi yang akan memberikan hasil yang terbesar dan paling penting yang bisa kita harapkan.

Inti dari berinvestasi pada diri sendiri adalah secara sadar mengontrol hidup kita dan memutuskan untuk mengalokasikan sebagian dari sumber daya yang terbatas yang kita miliki untuk pengembangan diri. Suatu pengembangan keterampilan dari dalam keluar. Keterampilan hidup yang akan mempengaruhi semangat, sikap, kebiasaan, dan tingkah laku—yang pada akhirnya akan membuat membentuk nasib kita.

Berinvestasi pada diri sendiri berarti bukan hanya belajar ,tetapi juga melatih ketrampilan-keterampilan baru. Itu berarti mengalokasikan sebagian waktu kita, uang kita, dan energi kita. Itu berarti berkorban sekarang untuk sesuatu yang penting di masa depan.

Kesimpulan

Itu tadi adalah lima kiat agar kita bisa mencapai lebih banyak dan lebih baik dalam hidup kita:

  • Ciptakan mimpimu
  • 5..4..3..2..1 ACTION
  • Semuanya terserah kita
  • Ciptakan kesempatan
  • Investasi pada diri sendiri

Sekali lagi, selamat atas wisuda ini dan selamat atas semua yang telah Anda capai. Saya berdoa agar Anda mencapai yang terbaik di tahun-tahun mendatang. Anda telah dibekali pendidikan terbaik dari salah satu perguruan tinggi terbaik di negeri ini. Dan saya berharap, Anda akan membawa nama harum UI dan Indonesia di kancah dunia.

Salam hangat penuh semangat

Betti Alisjahbana