![]() |
Photo by Jordan McQueen on Unsplash |
Singkatnya, saya ingin punya opsi penuh dalam hidup saya.
Beberapa tahun belakangan tersadar, bahwa opsi penuh itu rasa-rasanya nggak ada. Saya nggak bisa mendapatkan semuanya.
Ketika memulai bisnis saja saya langsung berhadapan dengan deadline, revisian, bahkan jam kerja yang lebih banyak. Semua yang saya niati untuk hindari, malah ada semua. Memang fleksibilitas waktu masih bisa didapatkan, itu pun setelah bertahun-tahun bikin pondasi dulu di bisnis.
Tapi sefleksibel apapun waktu, otak saya nggak berhenti bekerja. Ada saja yang terpaksa dipikirkan. Belum lagi kalau kepikiran ide-ide, rasanya gelisah ingin langsung mencoba. See?
Setiap hari kita dihadapkan pada pilihan-pilihan, tapi harus ikhlas bahwa pilihan-pilihan itu terkadang harus saling melenyapkan. Misalnya, hari ini harus melakukan aktivitas A tapi konsekuensinya akan kehabisan waktu untuk aktivitas B dan harus dikerjakan besoknya.
Dalam situasi lebih ekstrim, kita bahkan harus sadar bahwa opsi itu nggak pernah tersedia. Jangan merasa masih punya pilihan.
Contohnya, jika kita sedang kesulitan uang, dan pilihan satu-satunya adalah bekerja, terlebih jika pekerjaannya ada, ya bekerja sajalah dulu sebagai aktivitas A, aktivitas B bisa menyusul di lain waktu.
Saya nggak bermaksud mengerdilkan kemerdekaan, tetapi semua pilihan akan melahirkan konsekuensi, dan tugas kita adalah memilah prioritas dan menjalaninya betapapun itu akan mengganjal sisi nyaman kita. That’s very fine, anyway. Begitulah kehidupan orang dewasa.
Saya kira opsi penuh itu cuma ilusi, kita saja yang berimajinasi bahwa hal seperti itu ada. Yang perlu kita lakukan adalah berkompromi.

Tidak ada komentar: